JABAR MEMANGGIL - Universitas Padjadjaran (Unpad) menyampaikan keprihatinan mendalam atas dugaan kasus kekerasan seksual yang melibatkan salah satu dosennya. Pihak kampus menegaskan komitmennya untuk menangani kasus tersebut secara serius dan transparan, dengan tetap mengedepankan perlindungan terhadap korban.

Rektor Unpad, Arief Sjamsulaksan Kartasasmita, menegaskan bahwa institusi pendidikan tinggi tidak memberikan toleransi terhadap segala bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual, di lingkungan akademik.

Menurutnya, sebagai lembaga pendidikan, Unpad memiliki tanggung jawab moral dan institusional untuk menjunjung tinggi nilai integritas, keamanan, serta perlindungan bagi seluruh sivitas akademika.

Menindaklanjuti laporan yang diterima, pihak kampus bergerak cepat dengan menonaktifkan sementara dosen yang bersangkutan dari seluruh aktivitas akademik pada hari yang sama. Langkah ini diambil sebagai bentuk respons awal sekaligus upaya menjaga kondusivitas lingkungan kampus selama proses penanganan berlangsung.

Selain itu, Unpad juga membentuk tim investigasi internal yang melibatkan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (Satgas PPKS) serta unsur senat fakultas. Tim ini bertugas melakukan penelusuran secara objektif, menyeluruh, dan berlandaskan pada prinsip keadilan.

“Unpad akan konsisten melakukan proses pembuktian dan penindakan sesuai perundang-undangan, memprioritaskan kepentingan dan keselamatan korban. Itu berlaku untuk semua warga Unpad, termasuk dosen, mahasiswa, dan tenaga kependidikan,” tegas Rektor.

Ia menambahkan bahwa dalam proses penanganan kasus, pihak kampus akan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian agar tidak terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan. Meski demikian, keberpihakan terhadap korban tetap menjadi prioritas utama.

Langkah ini juga menjadi bagian dari komitmen Unpad dalam memperkuat sistem pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan kampus. Upaya tersebut dilakukan secara berkelanjutan guna menciptakan ruang akademik yang aman, inklusif, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Pihak kampus turut mengajak seluruh sivitas akademika serta masyarakat luas untuk mendukung proses penanganan yang sedang berjalan. Unpad juga membuka ruang bagi berbagai masukan sebagai bagian dari upaya menjaga transparansi dan kepercayaan publik.

Dengan langkah-langkah yang diambil, Unpad menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menangani kasus secara tuntas, tetapi juga memastikan kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang melalui penguatan sistem dan budaya kampus yang berintegritas.