JABAR MEMANGGIL— Kasat Reskrim Polres Sumedang, AKP Tanwin Nopiansah, memberikan pembekalan khusus mengenai bahaya perundungan (bullying) kepada ratusan siswa baru di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 1 Sumedang.
Kegiatan yang berlangsung interaktif ini dilaksanakan dalam rangka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di lokasi SRT 1 Sumedang, Desa Keboncau, Kecamatan Ujungjaya, Kabupaten Sumedang, pada Jumat (17/7/2026).
Bahaya Laten Bullying Rusak Masa Depan Anak
Dalam pemaparannya, AKP Tanwin Nopiansah menekankan bahwa tindakan perundungan bukan sekadar kenakalan biasa.
Menurutnya, bullying menyimpan bahaya laten yang sangat serius dan mampu merusak masa depan korbannya secara mental maupun akademis.
"Anak yang mengalami perundungan sering kali menunjukkan gejala perubahan perilaku. Salah satunya adalah muncul rasa takut yang mendalam dan keengganan untuk melangkah kaki ke sekolah," ujar AKP Tanwin di hadapan ratusan siswa.
Untuk mencairkan suasana dan menguji pemahaman para siswa, Kasat Reskrim juga mengajak mereka berinteraksi secara langsung.
Beberapa siswa dipanggil ke depan untuk berbicara dan menyuarakan pendapat mereka tentang bahayanya bullying. Pendekatan ini disambut dengan antusiasme tinggi dari para peserta didik baru yang berebut untuk berani tampil di depan umum.
SRT 1 Sumedang: Pionir Sekolah Rakyat Gagasan Presiden Prabowo
Ada hal menarik dalam pelaksanaan MPLS kali ini. SRT 1 Sumedang tercatat sebagai daerah perintis (pilot project) dalam pelaksanaan program Sekolah Rakyat Terintegrasi.
Program ini merupakan gagasan langsung dari Presiden RI Prabowo Subianto yang bertujuan menjamin hak dan akses pendidikan berkualitas setara bagi seluruh warga negara tanpa memandang status sosial.
Sebagai sekolah perintis yang fasilitasnya sudah siap, SRT 1 Sumedang tidak hanya menampung siswa lokal. Sekolah ini juga menjadi tempat belajar sementara bagi puluhan pelajar dari luar daerah.
Berdasarkan data, tercatat ada 60 pelajar titipan dari Kota Tasikmalaya,30 pelajar titipan dari Kabupaten Garut.
Penitipan siswa lintas daerah ini dilakukan lantaran pembangunan fisik gedung Sekolah Rakyat di wilayah Tasikmalaya dan Garut saat ini masih dalam proses pengerjaan.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan para siswa tetap mendapatkan hak belajarnya secara maksimal sejak hari pertamatahun ajaran baru dimulai.