JABAR MEMANGGIL -Di balik tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut, sebuah gagasan tentang masa depan lingkungan tengah dibangun. Bukan hanya membina warga binaan, lapas kini berupaya mengubah limbah kulit yang selama ini menjadi persoalan menjadi sumber nilai ekonomi melalui konsep ekonomi sirkular.
Langkah tersebut diwujudkan melalui kerja sama antara Lapas Kelas IIA Garut dan PT Mandraguna dalam pengembangan sistem pengolahan limbah kulit yang ramah lingkungan, produktif, dan berkelanjutan.
Kabupaten Garut selama ini dikenal sebagai salah satu sentra industri penyamakan kulit nasional. Di balik besarnya potensi ekonomi tersebut, limbah hasil penyamakan masih menjadi tantangan yang membutuhkan solusi jangka panjang.
Melalui kolaborasi ini, limbah kulit akan dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF). Maggot yang dihasilkan menjadi bahan baku pakan ternak berprotein tinggi, sementara sisa hasil budidayanya atau frass diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung program ketahanan pangan di lingkungan lapas.
Kepala Lapas Kelas IIA Garut, Rusdedy, mengatakan program tersebut merupakan bagian dari transformasi pembinaan warga binaan yang tidak hanya berorientasi pada pembentukan karakter, tetapi juga menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.
"Lapas harus mampu menjadi bagian dari solusi. Melalui kolaborasi dengan PT Mandraguna, kami ingin menghadirkan model pengelolaan limbah yang mampu mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi dan menjadi sarana pembelajaran keterampilan bagi warga binaan," ujar Rusdedy.
Pada tahap pengembangan, Lapas Garut menargetkan kapasitas pengolahan limbah kulit mencapai 10 ribu liter per hari. Peningkatan kapasitas akan dilakukan secara bertahap seiring penguatan infrastruktur, teknologi, dan kemitraan dengan berbagai pihak.
Program tersebut tidak hanya berorientasi pada pengurangan limbah, tetapi juga membangun rantai ekonomi baru mulai dari pengolahan limbah, produksi maggot, pembuatan pupuk organik, hingga pemanfaatannya untuk sektor peternakan dan pertanian. Warga binaan pun memperoleh keterampilan di bidang pengelolaan limbah, budidaya maggot, serta kewirausahaan sebagai bekal setelah bebas.
Kolaborasi Lapas Garut dan PT Mandraguna menjadi contoh bagaimana sinergi pemerintah dan dunia usaha mampu menghadirkan solusi terhadap persoalan lingkungan sekaligus memperkuat pemberdayaan masyarakat. Model ini diharapkan dapat direplikasi di berbagai daerah sebagai bagian dari pengembangan ekonomi sirkular berbasis pemasyarakatan.
Lebih dari sekadar mengolah limbah, program ini menunjukkan bahwa sebuah lembaga pemasyarakatan juga dapat menjadi ruang lahirnya inovasi. Dari sisa industri yang selama ini dianggap persoalan, tumbuh harapan baru bagi lingkungan, ekonomi, dan masa depan warga binaan.