JABAR MEMANGGIL- Gunung bukan hanya menguji fisik, tetapi juga kemampuan tubuh beradaptasi. Di balik rasa lelah yang sering dialami pendaki, terdapat fenomena menarik yang dikenal dengan istilah “second wind”.

Dalam dunia pendakian dan olahraga ketahanan, second wind merujuk pada kondisi ketika seseorang yang sebelumnya mengalami kelelahan mendadak merasakan kembalinya tenaga dan pernapasan yang lebih stabil, sehingga mampu melanjutkan aktivitas fisik dengan lebih ringan.

Berdasarkan keterangan dari Wikipedia, second wind merupakan fenomena fisiologis yang umum terjadi dalam olahraga endurance. Kondisi ini muncul setelah tubuh beradaptasi dengan beban aktivitas, sehingga distribusi oksigen menjadi lebih efisien dan kerja otot membaik.

Hal serupa dijelaskan oleh Sports Medicine Weekly yang menyebut bahwa second wind terjadi ketika sistem pernapasan dan kardiovaskular mulai bekerja selaras dengan kebutuhan energi tubuh. Pada fase ini, metabolisme aerobik lebih dominan dan penumpukan asam laktat dapat ditekan.

Dalam praktik pendakian, fenomena ini kerap dialami saat melewati tanjakan awal yang berat. Pendaki biasanya merasakan napas terengah, detak jantung meningkat, dan kelelahan ekstrem. Namun setelah mempertahankan langkah pelan dan ritme napas stabil selama beberapa menit, tubuh mulai terasa lebih ringan dan tenaga kembali muncul.

Artikel di Anjanistory.com menyebut second wind sebagai respons alami tubuh yang sering dianggap sebagai “tenaga cadangan” oleh para pendaki. Meski demikian, kondisi ini tidak menandakan tubuh sepenuhnya pulih.
Pendaki tetap dianjurkan menjaga kecepatan, mencukupi cairan dan asupan energi, serta tidak memaksakan diri.

Mengabaikan batas tubuh meski sedang mengalami second wind dapat meningkatkan risiko kelelahan berlebihan dan cedera.

Fenomena second wind menunjukkan kemampuan adaptasi tubuh manusia yang luar biasa. Namun di medan alam terbuka, kesadaran akan kondisi fisik dan pengendalian diri tetap menjadi kunci utama keselamatan pendakian.