Kembali ke Pelukan Kampung Halaman: Hangatnya Idulfitri di Masjid Agung Garut

Reporter : Wildan Fadilah
Ribuan Warga Dari Berbagai Daerah Ikuti Sholat Idul Fitri Di Alun-alun Garut

JABAR MEMANGGIL -Pagi itu, halaman Masjid Agung Garut dipenuhi lautan manusia. Takbir bergema, bersahut-sahutan, menyatu dengan wajah-wajah haru yang akhirnya kembali saling berjumpa.


Di antara ribuan jemaah yang memadati saf Salat Idulfitri 1447 Hijriah, terselip cerita-cerita perjalanan panjang para pemudik. Ada yang menempuh ratusan kilometer, menembus macet berjam-jam, demi satu tujuan sederhana: pulang.


Seorang pemudik asal Jakarta, misalnya, mengaku sudah dua tahun tidak merasakan salat Id di kampung halaman. Tahun ini, ia rela berangkat lebih awal agar bisa berdiri di saf bersama keluarga.


“Capek di jalan terbayar. Bisa salat bareng orang tua, itu yang paling dirindukan,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.


Suasana semakin khusyuk saat imam memimpin salat. Ribuan kepala tertunduk serentak, dalam diam yang justru terasa begitu penuh. Seolah setiap orang membawa cerita masing-masing—tentang rindu, penyesalan, harapan, dan doa yang dipanjatkan diam-diam.


Di momen itulah, Idulfitri menemukan maknanya yang paling jujur: kembali.
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, yang turut melaksanakan salat bersama masyarakat, menangkap suasana tersebut sebagai energi kebersamaan. Ia menyapa para pemudik yang telah kembali, menyebut kehadiran mereka sebagai bagian penting dari hangatnya Lebaran di Garut.


Namun lebih dari itu, pesan yang disampaikan menyentuh dimensi yang lebih dalam—tentang pentingnya menjaga persaudaraan setelah Ramadan berlalu.


Di tengah kebahagiaan itu, doa juga mengalir untuk saudara-saudara Muslim di berbagai belahan dunia yang tengah dilanda krisis kemanusiaan. Nama-nama seperti Palestina, Iran, hingga Lebanon disebut, menjadi pengingat bahwa kebahagiaan ini belum dirasakan semua orang.


Usai salat, pemandangan berubah menjadi lautan pelukan. Tangan-tangan saling berjabat, senyum dan air mata berbaur tanpa sekat. Anak-anak berlarian, orang tua saling bermaafan, sementara takbir masih menggema lirih di udara pagi.


Bagi banyak orang, Idulfitri bukan sekadar perayaan. Ia adalah perjalanan pulang—bukan hanya ke kampung halaman, tetapi juga ke hati yang lebih lapang.


Dan di Masjid Agung Garut pagi itu, ribuan orang membuktikan bahwa pulang selalu punya cara untuk menghangatkan jiwa.

Editor : Husni Nursyaf

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru