Dampak Kenaikan Harga Kedelai Impor, Pengrajin Tahu dan Tempe di Bogor Perkecil Ukuran Produk

Reporter : Yudi Irawan

JABAR MEMANGGIL Kenaikan harga kedelai impor yang kini menembus angka Rp9.800 hingga Rp10.000 per kilogram mulai berdampak langsung pada para pengrajin tahu dan tempe, khususnya di wilayah Caringin, Kabupaten Bogor. Para produsen di Desa Ciderum terpaksa mengambil langkah efisiensi agar tetap bisa bertahan di tengah melonjaknya biaya bahan baku.

Harga kedelai impor sebelumnya berada di kisaran Rp9.500 per kilogram. Namun, sejak adanya kebijakan kenaikan tarif impor oleh pemerintah Amerika Serikat, harga bahan baku utama ini terus merangkak naik.

Baca juga: Polres Sumedang Lakukan Takziah ke Rumah Duka Korban Pohon Tumbang di Jatinangor

Salah satu pengrajin tempe, Sarif, mengatakan bahwa kondisi ini memaksanya untuk mengurangi ukuran produknya. Kalau harga dinaikkan, pembeli bisa kabur. Jadi solusinya kami kecilkan ukuran tempe, biar masih bisa jual dengan harga yang sama, ujarnya.

Baca juga: Upacara Hari Lahir Pancasila 2026, Bupati Dony Beri Penghargaan untuk Pembina dan Anggota Paskibraka Sumedang

Hal senada diungkapkan Ari, pengrajin tahu yang juga terdampak langsung oleh kenaikan harga kedelai. Kami tidak punya pilihan lain. Kalau tetap ingin produksi, harus pintar-pintar menekan biaya, katanya.

Baca juga: Peringatan Hari Lahir Pancasila 2026 di Sumedang: Bupati Dony Ajak Warga Jadikan Pancasila Ideologi Hidup

Para pengrajin berharap pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga kedelai impor. Mereka khawatir jika kondisi ini dibiarkan terus, produksi tahu dan tempe akan semakin menurun, dan masyarakat tidak lagi bisa menikmati makanan bergizi ini dengan harga terjangkau. (Y.Irawan)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru