JABAR MEMANGGIL -Dinding tinggi dan jeruji besi di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Garut bukan hanya menjadi simbol hukuman, tetapi juga ruang pembelajaran bagi para warga binaan untuk memperbaiki diri.
Pesan itulah yang disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hak Asasi Manusia Jawa Barat, Hasbullah Fudail, saat memberikan penguatan Hak Asasi Manusia (HAM) kepada sekitar 80 warga binaan di Lapas Garut, Senin (9/3/2025).
Di hadapan para warga binaan, Hasbullah mengajak mereka untuk tidak larut dalam masa lalu. Ia menegaskan bahwa sejarah menunjukkan banyak tokoh besar dunia yang pernah merasakan hidup di balik jeruji, namun mampu bangkit dan memberikan perubahan besar bagi kehidupannya.
Menurutnya, masa menjalani hukuman seharusnya menjadi waktu untuk merenung, memperbaiki sikap, dan menata kembali masa depan.
“Banyak tokoh besar di dunia pernah mengalami masa sulit, bahkan pernah berada di penjara. Namun mereka mampu bangkit dan menjadikan pengalaman tersebut sebagai pelajaran berharga untuk berubah menjadi lebih baik,” ujar Hasbullah.
Ia juga mengingatkan bahwa tidak semua orang yang berada di dalam penjara sepenuhnya berniat melakukan pelanggaran hukum. Ada yang terjerumus karena bujuk rayu, tekanan keadaan, hingga keterpaksaan situasi.
Namun demikian, menurutnya setiap orang tetap memiliki kesempatan yang sama untuk memperbaiki diri.
Kegiatan penguatan kapasitas HAM ini juga bertujuan menumbuhkan kesadaran warga binaan bahwa meskipun sedang menjalani masa pidana, mereka tetap memiliki hak asasi yang harus dihormati.
Kepala Lapas Garut, Rusdedy, dalam kesempatan yang sama menyampaikan bahwa lembaga pemasyarakatan tidak hanya berfungsi sebagai tempat menjalani hukuman, tetapi juga sebagai ruang pembinaan agar warga binaan siap kembali ke masyarakat.
Berbagai program pembinaan pun terus dilakukan, mulai dari pembinaan kepribadian, kegiatan keagamaan, hingga peningkatan keterampilan yang dapat menjadi bekal ketika mereka bebas nanti.
Sementara itu, Kepala Bidang Instrumen dan Penguatan HAM Kanwil KemenHAM Jawa Barat, Petrus Polus Jadu, menekankan pentingnya sikap saling menghormati di lingkungan pemasyarakatan.
Menurutnya, setiap warga binaan memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda-beda, sehingga prinsip non-diskriminasi dan saling menghargai harus terus dijaga.
Selain hak, warga binaan juga diingatkan untuk menjalankan kewajibannya selama berada di dalam lapas, seperti mematuhi peraturan, mengikuti program pembinaan, serta menjaga hubungan baik dengan petugas maupun sesama warga binaan.
Melalui kegiatan ini, diharapkan masa pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan tidak hanya menjadi akhir dari sebuah kesalahan, tetapi juga awal dari perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.