JABAR MEMANGGIL-Armada kapal Global Sumud Flotilla telah tiba di pelabuhan Marmaris, Turki, untuk singgah sementara setelah meninggalkan Kreta, Yunani, pada Jumat (8/5).
Lebih dari 30 kapal berpartisipasi dalam pelayaran ini, meski sebelumnya 22 dari 53 kapal dibajak oleh militer Israel di perairan internasional, sekitar 600 mil laut dari Gaza.
Baca juga: Aktivis Indonesia Berlayar ke Gaza: Kisah Dramatis dari Atas Kapal Safsaf di Laut Mediterania
Pada 10–11 Mei 2026, perwakilan dari lebih dari 50 negara akan berkumpul di Marmaris untuk mengikuti seminar hukum dan rapat umum.
Kontingen Indonesia, yang terdiri dari lima peserta umum dan satu awak media, sudah berada di lokasi dan menjalani persiapan intensif.
"Peserta Indonesia telah mengikuti pelatihan wajib beberapa hari ini. Saat ini mempersiapkan kebutuhan dalam kapal," ujar Maimon Herawati, koordinator Global Peace Convoy Indonesia, dalam keterangannya.
Simbol Keteguhan di Tengah AncamanPelayaran ini melambangkan keteguhan aktivis global untuk melanjutkan misi kemanusiaan ke Gaza, meski menghadapi penculikan ilegal dan pengawasan ketat.
Tujuan utama tetap membersamai warga Palestina dalam perjuangan melawan penjajahan dan pemulihan hak-hak mereka.
Baca juga: Prof. Sami Al Arian: Sangat Penting Untuk Mendukung Palestina Agar Tetap di Negeri Mereka Sendiri
Sepuluh hari setelah insiden pembajakan, 175 aktivis diculik ke kapal Israel bernama Nahshon. Mereka mengalami kekerasan fisik dan verbal, kemudian dimasukkan ke penjara isolasi dengan perlakuan serupa dari tentara Israel.
“Baik aku dan kapten kapal, kami ditembak dalam intersepsi tersebut, kemudian ditahan di kapal Israel. Kami dipukuli dan disiksa berkali-kali di perairan Yunani. Setelah itu, kami dimasukkan ke penjara isolasi selama lebih dari 30 jam,” testimoni Richard Maxim Walter, salah satu korban penculikan.
Protes Berlanjut: Dua Aktivis Masih Ditahan
Hingga kini, Thiago Avila dan Saif Abu Keshek masih ditahan secara ilegal oleh Israel. Penahanan mereka diperpanjang dua kali dan berlangsung hingga Minggu (10/5/2026).
Saif, yang sebelumnya melakukan hunger strike, kini meningkatkan protesnya menjadi dry strike tidak makan dan minum sebagai bentuk penolakan terhadap proses pengadilan yang dianggap tidak sah.
Misi Global Sumud Flotilla terus menjadi sorotan internasional, menyoroti isu hak asasi manusia di kawasan Timur Tengah.
Editor : Husni Nursyaf