JABAR MEMANGGIL - Militer Israel kembali membajak kapal-kapal dari armada Global Sumud Flotilla yang sedang berlayar dari Marmara, Turki, menuju Jalur Gaza pada Senin (18/05) sekitar pukul 10.00 UTC.
Hingga berita ini ditulis, 11 kapal dilaporkan terkonfirmasi dibajak, sementara dua kapal lain dicurigai menjadi sasaran tindakan serupa.
Kapal-kapal yang dikonfirmasi dibajak adalah Amanda, Barbaros, Blue Toys, Cactus, Furleto, Holy Blue, Isobella, Kyriakos X, Tenaz, dan Zio Faster.
Dua kapal yang diduga dibajak adalah Jandabar dan Sadabad. Aksi pembajakan terjadi di perairan internasional, sekitar 250 mil laut dari Gaza.
Steering Committee GSF, Koordinator GPCI, Maimon Herawati mengatakan Dari total 61 kapal yang berpartisipasi dalam misi kemanusiaan ini, sebelas telah dikonfirmasi disergap.
"Satu kapal yang membawa delegasi Indonesia, Joseph, dilaporkan dicurigai mungkin telah dibajak, pihak penyelenggara masih mengonfirmasi situasi di kapal tersebut".
Tim pemantau Global Sumud Flotilla menyatakan masih memantau keberadaan dan kondisi beberapa aktivis asal Indonesia, antara lain Bambang Noroyono, Ronggo Wirasanu, Hendro Prasetyo, Asad Aras Muhammad, Thoudy Badai Rifanbillah, Herman Budianto, dan R Herubowo.
Belum ada laporan resmi mengenai cedera atau penahanan terhadap nama-nama tersebut. Global Sumud Flotilla merupakan misi non kekerasan yang membawa bantuan kemanusiaan menuju Gaza.
Penyelenggara menyatakan armada ini terdiri dari 61 kapal dari berbagai negara dan bertujuan mengantar bantuan serta menyorot blokade yang menimpa wilayah tersebut.
Penyelenggara misi mengutuk tindakan Israel dan menyatakan pembajakan terhadap kapal-kapal sipil yang tidak membawa senjata merupakan pelanggaran hukum internasional, karena terjadi di perairan internasional.
Pernyataan lebih lanjut dari pihak Israel belum diterima hingga saat ini Kondisi di laut dan seruan global Meski berada dalam kondisi yang dianggap membahayakan, para aktivis dilaporkan tetap bertahan pada kapal-kapal mereka dengan tujuan mencapai Gaza.
Penyelenggara menyerukan kepada pemerintah dunia dan masyarakat internasional untuk segera mengambil tindakan melindungi armada kemanusiaan dan menghentikan apa yang mereka sebut pelanggaran terhadap hukum internasional.
Pihak pun ters berupaya mengonfirmasi laporan ini dengan pihak terkait, termasuk otoritas maritim internasional, pemerintah Israel, dan perwakilan Global Sumud Flotilla.