Dari Sampah Menjadi Ruang Belajar: SDN 3 Sukanegla Garut Bangun Sekolah Berbasis Bata Plastik Daur Ulang

Reporter : Wildan Fadilah
Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin Saat Peletakan Bata Plastik Daur Ulang Di SDN 3 Sukanegla

JABAR MEMANGGIL– Tumpukan sampah plastik yang selama ini identik dengan persoalan lingkungan, kini hadir dalam wujud yang berbeda di Kabupaten Garut. Di SDN 3 Sukanegla, Kelurahan Sukanegla, Kecamatan Garut Kota, sampah residu yang sulit didaur ulang justru menjadi fondasi lahirnya ruang belajar yang lebih ramah lingkungan.
Prosesi peletakan bata plastik daur ulang pertama untuk pembangunan gedung baru sekolah tersebut dilakukan langsung oleh Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin.

Momentum ini menjadi penanda dimulainya pembangunan fasilitas pendidikan yang mengusung konsep ekonomi sirkular di Kabupaten Garut.


Pembangunan dua ruang kelas baru (RKB) beserta fasilitas toilet di SDN 3 Sukanegla mendapat dukungan dari Yayasan Bakti Barito. Berbeda dari bangunan sekolah pada umumnya, proyek ini memanfaatkan material berbahan dasar sampah plastik residu yang telah melalui proses pengolahan modern.


Bupati Garut, Abdusy Syakur Amin, menyambut baik inovasi tersebut. Menurutnya, pembangunan infrastruktur pendidikan yang memperhatikan aspek keberlanjutan merupakan langkah yang sejalan dengan arah pembangunan daerah.


"Menurut saya, ini adalah sesuatu yang sesuai dengan apa yang kita inginkan terkait dengan pembangunan di bidang pendidikan," ungkap Syakur kepada awak media.

Syakur menilai, penggunaan material daur ulang pada fasilitas pendidikan bukan sekadar menghadirkan bangunan baru, melainkan juga sarana edukasi bagi masyarakat mengenai pentingnya pengelolaan sampah.


Ia berharap inisiatif yang digagas Yayasan Bakti Barito dapat memberikan dampak yang lebih luas, tidak hanya meningkatkan kualitas sarana pendidikan, tetapi juga membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan.


"Saya berharap adanya terobosan yang digagas oleh Bakti Barito memiliki dampak signifikan di bidang pendidikan, sekaligus menjadi contoh nyata bagi masyarakat Garut tentang pentingnya pengelolaan sampah serta kesehatan. Saya juga berharap kerja sama seperti ini bukan hanya di tempat ini saja, melainkan bisa ke tempat-tempat yang lain," katanya.


Di balik dinding-dinding ruang kelas yang akan berdiri, tersimpan cerita tentang transformasi sampah yang sebelumnya dianggap tak bernilai. Direktur Eksekutif Yayasan Bakti Barito, Fifi Pangestu, menjelaskan bahwa material bangunan tersebut berasal dari sampah plastik residu, jenis sampah yang umumnya berakhir di tempat pembuangan akhir karena sulit didaur ulang dengan metode konvensional.


Melalui teknologi pengolahan tertentu, sampah tersebut diubah menjadi berbagai komponen bangunan yang aman dan fungsional. Tidak hanya panel dinding pengganti bata konvensional, material daur ulang juga dimanfaatkan untuk plafon hingga sistem perpipaan air terpadu.

Menurut Fifi, proyek di SDN 3 Sukanegla menjadi bukti bahwa pendekatan inovatif dalam pengelolaan sampah dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat.


"Kami ingin menunjukkan bahwa sampah residu kini dapat menjadi bagian dari solusi. Langkah ini tidak hanya mengurangi timbulan sampah, tetapi juga menghadirkan infrastruktur serta fasilitas pendidikan yang lebih baik bagi generasi mendatang," ungkapnya.


Inisiatif tersebut sekaligus menghadirkan pesan bahwa pendidikan dan kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan. Bagi para siswa SDN 3 Sukanegla, ruang kelas baru nantinya bukan sekadar tempat menimba ilmu, melainkan simbol bahwa perubahan besar dapat dimulai dari hal-hal yang selama ini kerap dipandang sebelah mata.


Di tengah tantangan pengelolaan sampah yang terus meningkat, langkah kecil dari sebuah sekolah di Garut ini menjadi pengingat bahwa masa depan yang berkelanjutan dapat dibangun melalui kolaborasi, inovasi, dan keberanian untuk melihat potensi di balik setiap persoalan.

Dengan mengubah sampah menjadi ruang belajar, SDN 3 Sukanegla tidak hanya membangun gedung sekolah, tetapi juga menanamkan harapan bagi generasi yang lebih peduli terhadap bumi tempat mereka tumbuh.

Editor : Husni Nursyaf

Peristiwa
Berita Populer
Berita Terbaru