JABAR MEMANGGIL -Kisah dua kakak-adik berusia 4 tahun, Fikri dan Noval, yang viral karena memungut sampah demi membantu neneknya di Cakung, Jakarta Timur, berakhir bahagia.
Kedua bocah polos itu kini telah diantar pulang ke Polres Sumedang oleh personel Polres Metro Jakarta Timur bersama Suku Dinas Sosial DKI Jakarta.
Baca juga: Polres Sumedang Gelar Pasukan Operasi Ketupat Lodaya 2026, Bupati: Mudik Aman Keluarga Bahagia
Kedatangan Fikri dan Noval disambut isak tangis haru dari ibunya, Sri Listiawati, yang sudah menunggu sejak sore di Polres Sumedang.
Kapolres Sumedang AKBP Sandityo Mahardika ikut mendampingi dan berinteraksi langsung dengan orang tua anak-anak tersebut.
Latar Belakang Pilu di Balik Video Viral
Video amatir yang menyebar luas di media sosial menunjukkan Fikri dan adiknya berjuang mencari botol bekas serta kardus untuk dijual.
Mereka melakukannya demi meringankan beban nenek lanjut usia yang merawat mereka di Jakarta.Terungkap bahwa ayah kedua anak terjerat kasus hukum di Polres Bekasi Kota.
Baca juga: Polisi Ciduk Kakak Tiri Pembunuh Bocah 12 Tahun di Cipatat, Kabupaten Bandung Barat
Ibunya, Sri Listiawati, yang telah bercerai, tinggal di Desa Sukaraja, Kecamatan Cibugel, Kabupaten Sumedang, bersama dua anak lainnya.
Keluarga ini memiliki empat anak, dua tinggal di Jakarta bersama ayah dan nenek, sementara dua lagi di Sumedang bersama ibu. Petugas Polres Metro Jakarta Timur pun langsung bertindak cepat setelah video viral. Dengan pengawalan ketat, kedua anak tiba di Polres Sumedang pada malam hari.
Respons Polisi dan Rencana Masa Depan
Baca juga: Sinergi Dengan Baznas, Polres Sumedang Resmikan Rumah Rutilahu di Bulan Ramadan
Kapolres Sumedang AKBP Sandityo Mahardika menjelaskan, "Anak-anak tersebut tanpa diajari. Mereka melihat neneknya memungut botol bekas dan kardus, lalu berinisiatif ikut memulung." Ia menambahkan bahwa Fikri dan Noval selanjutnya akan dimasukkan ke sekolah rakyat untuk pendidikan dasar.
Sri Listiawati mengaku senang bisa bertemu kembali. "Saya tidak tahu anak-anak saya di Jakarta jadi pemulung. Walaupun setiap hari berkomunikasi, baru tahu setelah viral di media sosial," ujarnya dengan nada haru.
Editor : Husni Nursyaf