JABAR MEMANGGIL -Masjid Agung Sumedang terus menegaskan komitmennya sebagai rumah ibadah ramah dan inklusif bagi semua kalangan, termasuk jemaah difabel. Jum'at (6/2/2026).
Sejak Desember 2024, masjid kebanggaan warga Sumedang ini rutin menyediakan juru bahasa isyarat pada setiap Salat Jumat.
Baca juga: Longsor di Lingkar Timur Jatigede: 2 Warung dan Gudang Hancur, Kerugian Puluhan Juta
Layanan ini khusus membantu jemaah tuli memahami isi khutbah dengan lebih baik.Inisiatif tersebut menuai respons positif luas dan menjadi bukti nyata bahwa masjid bukan hanya tempat ibadah, tapi juga ruang bersama yang mengedepankan kesetaraan, kepedulian, dan kemanusiaan.
Apresiasi Bupati Sumedang
Bupati Sumedang, H. Dony Ahmad Munir, menyampaikan pujian tinggi kepada Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Agung Sumedang atas keistiqomahannya mewujudkan masjid ramah difabel.
“Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Sumedang, saya ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada DKM Masjid Agung Sumedang yang telah konsisten menjadikan masjid ini ramah difabel dan inklusif,” ujar Bupati Dony.
Ia menekankan bahwa aksesibilitas di masjid tersebut sudah sangat memadai, mulai dari fasilitas fisik hingga layanan keagamaan. Salah satu inovasi unggulannya adalah pemandu bahasa isyarat setiap Jumat, memungkinkan jemaah tuli mengikuti pesan khatib secara penuh.
“Dengan pemandu isyarat, teman-teman tuli bisa mendapatkan pengetahuan keagamaan yang berdampak pada peningkatan iman dan takwa,” tambahnya.
Harapan ke Depan
Bupati Dony berharap Masjid Agung Sumedang terus memimpin sebagai pelopor masjid inklusif, memberikan pelayanan keagamaan prima bagi seluruh lapisan masyarakat.
“Semua orang punya hak yang sama untuk mendapatkan pengetahuan tentang keagamaan,” tegasnya.Inisiatif ini diharapkan menginspirasi masjid-masjid lain di Sumedang dan sekitarnya untuk mengadopsi langkah serupa.
Editor : Husni Nursyaf